Ahlan Wa Sahlan

Welcome to Abstract World
Ahlan Wa Sahlan !!!! (^_^)//
Tampilkan postingan dengan label Abstrak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abstrak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2012

Dalam Diam


Kalau kita mencintai seseorang,
jangan beritahu si dia.
Nanti Allah kurangkan rasa cinta padanya
Tapi luahkan pada Allah,
beritahulah Allah.
Allah Maha mengetahui siapa jodoh kita ..

Cintai Dia Dalam Diam,
Dari Kejauhan Dengan Kesederhanaan & Keikhlasan
Jika benar cinta itu karena ALLAH maka biarkanlah ia mengalir mengikut aliran ALLAH karena hakikatnya ia berhulu dari ALLAH maka ia pun berhilir hanya kepada ALLAH!



“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran ALLAH.”
(Adz Dzariyat : 49)


Tetapi jika kelemahan masih nyata dipelupuk mata maka bersabarlah, berdoalah & berpuasalah

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji.
Dan suatu jalan yang buruk.”
(Al Israa’ : 32 )

Minggu, 29 Januari 2012

Cinta Itu . . .



Sore itu... langit mendung dipadu gerimis menyentakku. Aku bergegas mengambil jemuran. Sesaat aku menengadah ke atas. Menatap langit. Merasakan gerimis menyapa wajahku. Seolah ada gelombang asing merambat di otakku. Menciptakan sensasi ‘cinta’. Ya! Cinta yang tiba-tiba menjamur menghasilkan segaris senyum di bibirku. Damai.
Ya Allah... langit saja bisa membuatku jatuh cinta. Apalagi Engkau Yang Maha Sempurna, bukan? Apakah hatiku terlalu kotor untuk mencintai DIRIMU Yang Maha Suci. Harapanku seperti senandung lagu yang baru saja diperkenalkan oleh temanku... “izinkan aku mencintai-Mu”
Bicara tentang cinta... apa yang kau pahami kawan? Tentu diusia kita hal ini tidak asing lagi.
Terlalu murah rasanya jika hanya disandingkan dengan pesona-pesona yang memikat panca indramu. Ya! Iini tentang rasa... rasa pada hatimu. Seperti puisi sahabatkuku, Karfa
“Jika mencintaimu karena kata, kadang kata ‘kan menjadi dusta
Jika mencintaimu karena rupa, usia ‘kan lunturkan pesona
Jika mencintaimu karena harta, terkadang,,,
ku inginkan cakrawala yang kutahu kau tak kuasa membelinya dengan harta
Jika mencintaimu karena tutur prilakumu, kebaikanmu padaku
Aku tak sanggup membaca rasa pada hati manusia
Karena aku mencintaimu atas cinta yang ditanamkan dalam dada ini Anugerah dari Sang Pemilik Cinta...
Aku merasakan sensasi emosi tersendiri meresapinya. Ini tentang rasa yang diberikan Tuhan sebagai anugerah-Nya kepada kita.  Rasa ini tak pantas kiranya kita salahgunakan, bukan?
Tentang cinta... ia adalah rahasia-rahasia perasaan.
Perjalanan cinta seperti jalur-jalur benda langit yang senantiasa kita amati di malam hari. Masing-masing takdir benda langit itu mengantar mereka pada pengembaraan-pengembaraan jauh. Menembus ruang dan waktu, tetapi pasti sampai pada ujung jarak yang sanggup mereka tempuh.
Ujung jarak itu membuat benda langit mau tidak mau harus berhenti. Tidak bisa berjalan lagi. Jika ia memaksakan diri akan ada ketidakseimbangan, kehancuran, dan malapetaka. Benturan antar bintang, meteor dengan planet. 

Selasa, 29 November 2011

Surat dari Bulan


Dear Bumi ..

Ya, aku memang tak cukup lama mengenalmu, mungkin baru dua atau tiga malam lalu.

Aku tak mengetahui apa pun tentang mu, kecuali tentang cerita-cerita penuh canda tawa dan aksioma-aksioma idealis tuk meraih mimpi yang sering kamu bagi padaku.


Ya, mungkin hanya sebatas itu yang ku tau darimu.

Sungguh, aku tak pernah tau apa rencana Tuhan menautkan ku padamu, dalam keseimbangan gravitasi dan sentripetal.

Disini lah aku dan kamu, berjalan dalam orbit yang telah diciptakanNya, berjalan dalam hangatnya sinar mentari.

Di orbit itu kamu lah penunjuk jalan bagiku, namun kamu tak pernah memaksaku berjalan di belakangmu, mengikutimu.

Kadang aku mendahuluimu, kadang aku disisimu, kadang aku begitu lelah dan hanya mengikuti kemana kamu akan melangkah.

Masih kuat ingatanku, di sepanjang jalan itu kamu bercerita, tertawa dan menari dengan begitu ceria, mataku terbinar dan bibirku tersenyum melihat tingkah lucumu.

Ketika aku lelah dan cahayaku mulai redup, ingatan tentangmu selalu mampu menjadi purnama biru di meridian pandangku hingga aku benderang kembali.

Kini aku merasakan sesuatu yang sulit ku jabarkan. Mungkin aku menyukaimu, senyummu, tuturmu, simpatimu, semua tentangmu.

Mungkin kamu tak menyadarinya, aku selalu memperhatikanmu, aku butuh tuk dekat denganmu.

Kamu telah berdomisili di meridian pandanganku, wajahku telah terkunci tidal oleh kerlingmu, aku mencoba selalu dekat denganmu, mengorbitmu.

Entahlah, mungkin kamu tak akan suka jika mengetahui ini semua, aku pun tak ingin kamu tau apa yang ku rasa.

Aku terlanjur nyaman dengan label sahabat yang kamu berikan padaku, aku yakin kamu pun begitu.

Aku hanya ingin sedikit membalas arti yang kamu beri padaku, tak lebih.

Namun di hari ini, aku merasa ada yang berbeda darimu dan kita.

Aku tak mengenalmu se-friendly hari kemarin, aku tak mendapati kita sehangat kemarin.

Mungkin aku salah, mungkin kamu telah berhasil membaca perasaan janggal yang ku miliki.

Dan ku rasa gaya gravitasimu sengaja kamu kalahkan dengan gaya sentripetalku, hingga ada jarak konstan bahkan makin besar diantara kita.


Senin, 07 November 2011

Warna Emosi

Add caption



akhirnya aku merampungkan pembacaan novel Negeri 5 Menara. Ah! kenapa tidak dari dulu aku membaca novel yang satu ini. Tapi kalo dipikir-pikir ya tak apa lah, pan juga kemaren sibuk berkutat dengan akuntansi keuangan #terpaksa (peacee Bapa dosen ^^V). Padahal nih reader al-mahbubah, novel ini sudah dirampungkan duluan oleh adik dan mamaku berbulan-bulan silam, atau setahun yang lalu mungkin (lupa aye =,=a) maap gan ^^V. Maap juga nih kali ini author nulis bukan pake bahasa sastra + baku  (emang kapan lo nulis begitu #pletakk). #author~belong to this blog

pokoknya gitu deeh~ si sulung ini rada lelet daripada yang lain~ kalah telak >< #lebay dah author. Masalahnya gini ya~ bukannya menyesal, tapi setiap hari itu rugi kalo gak ada buku yang dipegang, minimal novel maksimal Al-Qur'an (ceileee). Begitu prinsip author sekarang mah #insyaf. Makanya, rada kecewa juga, kemaren hanya bercengkrama dengan teman lama setelah sebelumnya melewatkan waktu yang berharga mengamati jatah daging qurban yang tergolek padet. Ya! hanya mengamati ! #kuga banget kan? kurang gawian. hhe. Belum lagi razia di Martapura the diamond city bonus kemacetan di kawasan Banjarbaru memperboros jatah waktu pulangku. Tapi segala sesuatu tidak ada yang sia-sia kan? kemaren itu author diajarkan bersabar sama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. ^^

Nah...kembali ke 'tablet' >>>  bagiku ini bukan sekedar novel, isinya itu lo gan~ gak nahan #mulai kumat. Isinya menceritakan tentang tokoh utama dan dunianya yang berubah setelah masuk PM, Pondok Madani. Kata mama  sih si author curhat gitu tentang pengalamannya masuk ma'had Gontor. Kok mamaku tau? soalnya beliau nonton sang penulis di acara Kick Andy.  Kalian tau? author bak kesetrum ngebacanya, author seakan diajak bernostalgi. bernostalgi to the precious moment in my life ^^ Yupp! kemana lagi kalo bukan our beloved boarding Darul Hijrah lil-banat zaman-zaman sebelum taun 2007.Salah satu gold period author. Kenapa dibilang begitu? karena author merasa masa-masa itu adalah masa terbentuknya hati polos author. Ya! polos.

Kamis, 03 November 2011

Falsafah & Moralisme Perwayangan


1. 'Semar' adalah Socrates-nya orang Yunani
Kisah-kisah perwayangan sangat mengesankan dan heroik. Dan di dalamnya juga terdapat banyak pelajaran yang bisa kita petik. Wayang kulit adalah bahasa pralambang, tamsil atau isyarat. Watak jujur misalnya, dipersonafikasikan sebagai tokoh Bima Sena, atau Arya Werkudara, kstaria gagah perkasa berpostur tubuh raksasa, dan tidak bisa menggunakan bahasa Jawa krama yang halus. Dia hanya bisa ngoko, atau menggunakan bahasa Jawa kasar. Bagi dia, kejujuran lebih penting daripada sekedar halus atau berbasa-basi. Buat apa halus kalau tidak jujur. Sedangkan yang kita jumpai dalam budaya kita justru kebalikannya: lebih penting halus daripada jujur.

Kebalikannya adalah Buta Cakil: ini lambang kemunafikan. Buta Cakil adalah satu-satunya buta, atau raksasa dalam pewayangan, yang memiliki postur tubuh manusia atau ksatria. Kulitnya halus mulus seperti kulit manusia, bahkan pakaiannya batik seperti pakaian seorang priyayi, senjatanya pun keris, ini juga senjata para ksatria… hanya saja ia bermuka raksasa. Ia melambangkan makhluk-makhluk munafik: yang berpenampilan manusia, tapi sejatinya adalah raksasa buas pemakan manusia. Dan akhir lakon Buta Cakil selalu sama: dia mati berdiri tertusuk kerisnya sendiri. Wayang kulit juga merupakan catatan perjalanan spiritualitas orang Jawa sendiri. Sebelum masuknya agama Hindu-Budha ke tanah Jawa, orang Jawa sudah menyembah Tuhan Sang Pencipta dengan nama asli Jawa, yaitu: Sang Hyang Taya: Dia Yang Tak Dapat Dibandingkan Dengan Segala Sesuatu. Sedangkan wayang kulit bukan produk Jawa 100%. Ceritanya diimpor dari India: Mahabharata dan Ramayana. Maka dewa-dewa Hindu pun masuk dan menghiasi pakeliran wayang kulit: Bathara Brahma, Wisnu dan Bathara Guru. Namun pada zaman Islam, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga wayang kulit pun di-Islamkan. Dewa-dewa Hindu dianggap sebagai anak-anak keturunan Nabi Adam. Dan senjata ampuh milik Prabu Yudhistira kalimasada, yang aslinya adalah kalimahosadha, diartikan sebagai Kalimat Sahadat.
tokoh yang paling sakral dalam dunia pewayangan adalah Semar: dewa asli Jawa. Ia digambarkan sebagai seorang manusia biasa, bahkan seorang rakyat jelata, abdi yang setia… namun ia tidak mau tunduk-sujud menyembah kepada siapapun: tidak kepada raja-raja kaya, tidak pula kepada dewa-dewa di kahyangan. Misinya murni untuk menjaga harmoni semesta raya. Dan demi mengemban tugasnya itu ia tak segan-segan mendamprat dewa-dewa di kahyangan dan mempermalukan mereka. Semar tak pernah takut pada para dewa. Ia berperan di Nusa Jawa seperti halnya Socrates di Yunani. Dialah yang menyerukan pada penduduk di Nusa Jawa agar tidak tunduk-sujud menyembah kepada apapun atau siapapun kecuali Sang Hyang Taya: Ia Yang Tak Dapat Dibandingkan Dengan Segala Sesuatu. Bahkan Agus Sunyoto dalam novelnya Syaikh Siti Jenar (LKiS, 2003), menyebut Semar (Dyah Hyang Semar) sebagai guru sucinya orang Jawa pada jaman purbakala.